ADMF Mencatatkan Pembiayaan Baru Berhasil Tumbuh Sebesar 17,3% y/y di Semester I/2021

Perekonomian domestik di kuartal II/2021 sudah lebih baik bila dibandingkan dengan kuartal I/2021 sejalan dengan pulihnya aktivitas perekonomian secara bertahap didukung menurunnya jumlah kasus harian Covid-19 dan dimulainya distribusi vaksin sejak awal tahun 2021. Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan perekonomian domestik masih berada dikisaran 7,1% hingga 7,5% di kuartal II/2021, meningkat signifikan dari kuartal I/2021 sebesar -0,7%.Beberapa indikator perekonomian yang menunjukkan tren positif di kuartal II/2021 antara lain indeks penjualan ritel pada Maret dan April 2021 tumbuh 9,8% y/y, dan PMI manufaktur Indonesia yang naik dari posisi 54,6 menjadi 55,3 pada Mei 2021. Sementara itu,

Bank Indonesia sepanjang 1H2021 telah memangkas suku bunga BI7DRR sebanyak 1x menjadi 3,50%. Inflasi masih rendah berada di level 1,33% di bulan Juni 2021.

Namun, pada pertengahan bulan Juni 2021, angka penyebaran kasus Covid-19 kembali meningkat secara signifikan, sehingga pemerintah mengimplementasikan kembali pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali sehingga hal ini menjadi tantangan baru bagi pelaku industri dan bisnis pada kuartal III/2021.

Industri penjualan otomotif berhasil tumbuh pada Semester I/2021 yang diantaranya didukung oleh stimulus insentif pajak (PPnBM) pembelian mobil penumpang baru, aktivitas ekonomi yang mulai membaik, dan adanya efek penjualan dari periode bulan Ramadhan. Berdasarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan industri mobil baru dan sepeda motor baru ritel masing-masing tercatat tumbuh 33,5% y/y dan 23% y/y menjadi 388 ribu unit dan 2,4 juta unit jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Seiring meningkatnya penjualan pada industri otomotif, Perusahaan mencatatkan pembiayaan baru bertumbuh sebesar 17,3% y/y menjadi Rp11,8 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu. Hampir semua segmen produk pembiayaan mengalami kenaikan terutama didominasi segmen pembiayaan mobil baru sebesar 30,1% y/y, kemudian diikuti segmen pembiayaan mobil bekas dan sepeda motor baru masing-masing sebesar 23,4% y/y dan 13,3% y/y. Walaupun demikian, piutang yang dikelola Perusahaan masih tercatat menurun sebesar 18,1% y/y menjadi Rp41,3 triliun pada Semester I/2021 yang disebabkan oleh rundown portfolio yang lebih tinggi.

Di tengah adanya penerapan PPKM sejak awal Juli 2021, Perusahaan akan lebih berfokus pada penjualan yang tersegmentasi diluar Jawa dan Bali. Selain itu, Perusahaan juga akan lebih menyelaraskan antara pertumbuhan pembiayaan baru dan pengendalian kualitas aset di tengah lingkungan operasional yang penuh tantangan untuk mempertahankan kinerja Perusahaan.

“Melihat dinamika pandemi Covid-19 yang masih belum pulih di tahun 2021, dalam merespon percepatan adopsi digital oleh konsumen, Adira Finance terus berinovasi mempersiapkan strategi bisnis untuk menanggapi arah perubahan konsumsi masyarakat yang menjadi lebih digital savvy dengan mempermudah pelanggan dalam melakukan pembiayaan tanpa harus melalui kantor cabang. Oleh karena itu, Perusahaan terus melakukan inovasi dan mengembangkan digital platform Adiraku. Hingga Juni 2021, jumlah konsumen yang telah mengunduh aplikasi Adiraku sekitar 1,5 juta konsumen dan jumlah konsumen yang terdaftar sekitar 700 ribu konsumen.” kata Hafid Hadeli, Presiden Direktur.

Hingga saat ini, Perusahaan terus memberikan restrukturisai kepada nasabah yang terdampak Covid-19. Per posisi Juni 2021, jumlah nasabah yang pinjamannya telah direstrukturisasi ada sebanyak 831 ribu kontrak atau sekitar Rp19 triliun mewakili sekitar 36% dari piutang yang dikelola per Februari 2020. Saat ini, lebih dari 80% dari pinjamanan nasabah yang telah direstrukturisasi telah mulai membayar kewajiban cicilannya.

Dari sisi keuangan, Perusahaan membukukan pendapatan bunga pada Semester I/2021 mencapai Rp 4,4 triliun, masih mengalami penurunan sebesar 25,0% y/y jika dibandingkan periode sama tahun lalu, terutama karena penurunan piutang pembiayaan. Sementara itu, beban bunga turun sebesar 27,6% y/y menjadi Rp1,7 triliun sejalan adanya penurunan pada jumlah pinjaman serta pada cost of fund. Hasilnya, pendapatan bunga bersih tercatat sebesar Rp2,7 triliun, turun 23,3% y/y dan margin bunga bersih tercatat sebesar 12,3%. Beban operasional Perusahaan turun tipis sebesar 1,1% y/y menjadi Rp1,8 triliun, sementara cost of credit mengalami penurunan sebesar 15,7% y/y menjadi Rp819 miliar.

Dengan demikian, laba bersih Perusahaan setelah pajak dibukukan sebesar Rp 473,5 miliar atau mengalami penurunan sebesar 20,7% y/y. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Perusahaan masing-masing tercatat menjadi sebesar 3,3% dan 12,1% di Semester I/2021.

“Dari sisi pendanaan, kami tetap melakukan diversifikasi baik melalui dukungan pembiayaan bersama dari perusahaan induk, Bank Danamon, maupun pinjaman eksternal yang terdiri pinjaman bank dan obligasi. Per posisi Juni 2021, pembiayaan bersama mewakili sekitar 43% dari total piutang yang dikelola. Sementara, pinjaman eksternal tercatat sebesar Rp13,3 triliun, turun 35,4% y/y. Dengan demikian, Gearing Ratio turun dari 2,7x menjadi 1,7x. Di tengah pandemi Covid-19 yaitu di bulan Juli 2021, Perusahaan telah menerbitkan Obligasi PUB V Tahap II dan Sukuk Mudharabah IV Tahap II tahun 2021 senilai Rp 1,5 triliun dengan oversubscribe 4,8x.

Selain itu juga, kami berhasil mempertahankan peringkat domestik dan internasional masing-masing yaitu idAAA dan BBB serta Baa2/Stable dari Lembaga Pemeringkat PEFINDO dan Fitch serta Moody’s atau sama dengan peringkat negara Republik Indonesia.

Peringkat ini memperkuat kemampuan Perusahaan untuk mengakses sumber pendaan yang lebih kompetitif baik dalam negeri maupun luar negeri.” kata I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance.